A.Latar
Belakang
Peraturan Mendiknas
Nomor 23 tahun 2006 tentang
standar kompetensi lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah
menjelaskan bahwa dalam pembelajaran menulis siswa diharapkan mampu menggunakan
berbagai jenis wacana tulis untuk mengungkapkan pikiran, perasaan, dan
penyampaian informasi dalam bentuk teks,
grafik, dan tabel yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Peraturan
pemerintah tersebut mengisyaratkan bahwa pembelajaran menulis di kelas harus dapat dilaksanakan secara kreatif, aktif,
inovatif, dan menyenangkan. Hal ini sekaligus untuk memenuhi stándar proses
pendidikan.
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) Negeri 1 Palu dilaksanakan berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP). Di dalam KTSP pembelajaran menulis proposal terdapat di
kelas XII,
dengan kompetensi
dasar: menulis proposal untuk kegiatan
ilmiah sederhana. Indikator
dari kompetensi dasar ini meliputi: (1) membuat kerangka proposal
sesuai dengan konteks yang ditentukan, dan (2) menyusun rancangan proposal yang
berkonteks kegiatan keahlian masing-masing.
Untuk memenuhi indikator itu guru diharapkan dapat
mengelola pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai teknik dan strategi
pembelajaran. (Ghazali dalam Liputo, 2003) menjelaskan strategi sangat bermanfaat
dalam pembelajaran. Strategi dapat mengarahkan dan mengoptimalkan proses
pembelajaran di kelas. Selain itu. Degeng (dalam Liputo, 2003:4) menjelaskan,
strategi pembelajaran yang digunakan hendaklah dapat mengembangkan kemampuan
mental siswa yang memungkinkannya belajar.
Kondisi di
lapangan menunjukkan, guru belum dapat memanfaatkan teknik dan strategi pembelajaran dalam
pembelajaran menulis proposal. Hal ini berimplikasi pada hasil menulis proposal yang diberikan
kepada siswa belum menunjukkan hasil yang optimal. Hal ini tampak dari
rendahnya hasil
belajar siswa kelas XII dalam pembelajaran menulis proposal. Rendahnya hasil belajar menulis proposal tersebut diperoleh dari nilai
tugas terstruktur yang diberikan
kepada siswa dengan nilai rata-rata 65 - 70. Nilai rata-rata yang diperoleh siswa tersebut belum
memenuhi nilai kriteria ketuntasan minimal kelas XII pada kompetensi dasar menulis
proposal ilmiah sederhana,
yakni 75.
Rendahnya hasil belajar menulis proposal siswa tersebut, antara lain disebabkan oleh beberapa
hal: (1) guru belum menerapkan strategi yang tepat dalam pembelajaran menulis proposal, (2) kegiatan pembelajaran di kelas lebih menekankan
hasil daripada proses, (3) terbatasnya sarana dan prasarana pendukung proses
pembelajaran, dan (4) siswa kurang berminat terhadap pembelajaran menulis
proposal. Untuk
mengoptimalkan hasil belajar siswa dalam menulis proposal dapat dilakukan dengan menerapkan salah satu strategi
atau
model pembelajaran. Salah
satu strategi atau model
pembelajaran yang diharapkan dapat mengoptimalkan pembelajaran menulis proposal
adalah model
pembelajaran berbasis proyek.
Harapan penulis, melalui penerapan model
pembelajaran berbasis proyek diharapkan
dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menulis proposal di kelas XII SMKN 1 Palu tahun pelajaran 2012/2013, sekaligus dapat dijadikan sebagai sebuah model
pembelajaran menulis proposal dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMK.
a. Masalah
Berdasarkan
paparan dalam latar belakang, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
a)
Bagaimana
langkah-langkah penerapan model pembelajaran
berbasis proyek untuk meningkatkan kemampuan
menulis proposal ilmiah sederhana?
b)
Apakah
penerapan model pembelajaran berbasis proyek
dapat meningkatkan hasil belajar menulis proposal ilmiah sederhana?
b. Tujuan Penelitian
Sejalan
dengan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah :
a)
Untuk mengetahui langkah-langkah penerapan model pembelajaran berbasis proyek untuk meningkatkan kemampuan menulis proposal ilmiah sederhana.
b) Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran berbasis proyek
dapat meningkatkan hasil belajar menulis proposal ilmiah sederhana. (Bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar