TELAAH KRITIS
ARTIKEL ILMIAH: IDENTITAS MANUSIA BALI
(Perspektif Adat, Agama, dan Budaya)
(Oleh: Ida Bagus Gunada, Universitas
Hindu Indonesia Denpasar)
1. Inti artikel:
Identitas
manusia Bali dari persepektif adat, agama, dan budaya secara keseluruhan
tercakup dalam kehidupan di desa pakraman.
Manusia Bali, baik secara individu maupun kelompok adalah manusia yang relegius, yang
mengutamakan persaudaraan (penyamabrayan)
dan persamaan dalam perbedaan (paras
paros sarpanaya, sagili saguluk, salunglung sabayantaka), terbuka dengan
kehadiran orang/etnik lain, dan manusia yang menginginkan hidup serasi,
selaras, dan seimbang dengan alam dan lingkungannya.
2. Telaah kritis:
Kajian utama
yang penulis paparkan dalam artikel ini adalah kajian masyarakat Bali dalam
perspektif adat, agama, dan budaya. Dari segi adat, masyarakat Bali sangat
menjunjung tinggi dan taat kepada adat. Karena adat memiliki “awig-awig” (hukum tertulis yang mengatur
seluruh anggota adat. Dari segi agama, sebagai pemeluk Hindu yang mayoritas
secara terbuka menerima etnik lain walaupun minoritas. Dari segi budaya,
masyarakat Bali sangat memperhatikan budaya dan memberi peluang kepada
masyarakat Bali untuk menggali budaya lokal sebagai aset budaya nasional.
Budaya yang masuk ke Bali akan difilter
melalui Desa Pakraman sebagai
representasi lembaga adat.
Berdasarkan
telaah tersebut ada beberapa poin penting yang dapat dipaparkan sebagai
berikut.
1)
Di manapun manusia Bali berada tetap
akan membawa ciri khas adat, budaya dan sekaligus taat untuk melaksanakannya.
2)
Budaya Bali memberikan sumbangan
terhadap pengembangan budaya nasional, termasuk bahasa. Bukti bahasa bahasa
Bali memberikan sumbangan terhadap perkembangan bahasa nasional dapat dilihat
dalam KBBI. Ada perbendaharaan kata yang bersumber dari bahasa Bali, misalnya
kata abian ‘tanaman di ladang’ (KBBI,
2002: 3).
3)
Sistem budaya yang kuat berimplikasi
pada pengajaran bahasa Bali yang diajarkan mulai dari SD s.d. SMA.
4)
Pengajaran bahasa Bali tidak saja diajarkan
di sekolah, namun diajarkan pula di desa
Pakraman sebagai lembaga adat untu pemertahanan bahasa Bali yang juga
mendukung perkembangan bahasa Nasional (baca pula Fungsi dan Kedudukan Bahasa
Indonesia).
5)
Desa adat (Desa Pakraman) dapat dijadikan sebagai media pembelajaran bahasa
(bahasa Bali).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar