Kamis, 01 November 2012

IDENTITAS MANUSIA BALI

-->
TELAAH KRITIS

ARTIKEL ILMIAH: IDENTITAS MANUSIA BALI (Perspektif Adat, Agama, dan Budaya)
(Oleh: Ida Bagus Gunada, Universitas Hindu Indonesia Denpasar)

1.      Inti artikel:
Identitas manusia Bali dari persepektif adat, agama, dan budaya secara keseluruhan tercakup dalam kehidupan di desa pakraman. Manusia Bali, baik secara individu maupun kelompok  adalah manusia yang relegius, yang mengutamakan persaudaraan (penyamabrayan) dan persamaan dalam perbedaan (paras paros sarpanaya, sagili saguluk, salunglung sabayantaka), terbuka dengan kehadiran orang/etnik lain, dan manusia yang menginginkan hidup serasi, selaras, dan seimbang dengan alam dan lingkungannya.

2.      Telaah kritis:
Kajian utama yang penulis paparkan dalam artikel ini adalah kajian masyarakat Bali dalam perspektif adat, agama, dan budaya. Dari segi adat, masyarakat Bali sangat menjunjung tinggi dan taat kepada adat. Karena adat memiliki “awig-awig” (hukum tertulis yang mengatur seluruh anggota adat. Dari segi agama, sebagai pemeluk Hindu yang mayoritas secara terbuka menerima etnik lain walaupun minoritas. Dari segi budaya, masyarakat Bali sangat memperhatikan budaya dan memberi peluang kepada masyarakat Bali untuk menggali budaya lokal sebagai aset budaya nasional. Budaya yang masuk ke Bali akan difilter melalui Desa Pakraman sebagai representasi lembaga adat.
Berdasarkan telaah tersebut ada beberapa poin penting yang dapat dipaparkan sebagai berikut.

1)      Di manapun manusia Bali berada tetap akan membawa ciri khas adat, budaya dan sekaligus taat untuk melaksanakannya.

2)      Budaya Bali memberikan sumbangan terhadap pengembangan budaya nasional, termasuk bahasa. Bukti bahasa bahasa Bali memberikan sumbangan terhadap perkembangan bahasa nasional dapat dilihat dalam KBBI. Ada perbendaharaan kata yang bersumber dari bahasa Bali, misalnya kata abian ‘tanaman di ladang’ (KBBI, 2002: 3).

3)      Sistem budaya yang kuat berimplikasi pada pengajaran bahasa Bali yang diajarkan mulai dari SD s.d. SMA.

4)      Pengajaran bahasa Bali tidak saja diajarkan di sekolah, namun diajarkan pula di desa Pakraman sebagai lembaga adat untu pemertahanan bahasa Bali yang juga mendukung perkembangan bahasa Nasional (baca pula Fungsi dan Kedudukan Bahasa Indonesia).


5)      Desa adat (Desa Pakraman) dapat dijadikan sebagai media pembelajaran bahasa (bahasa Bali).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar